Kami Menjual Alat Survey Merk Terkemuka

Kami Menjual Alat Survey Merk Terkemuka

PENTINGNYA KALIBRASI ALAT SURVEY


Share Sience

Berdasarkan hasil wawancara dengan Manager Kalibrasi Perusahaan Unitech Indosurta Bpk. Yahya dan Bpk. Agus Setiawan serta hasil observasi dan referensi yang ada bahwasanya " kalibrasi alat ukur perlu dilakukan secara periodik ini dikarenakan penggunaan alat ukur yang sering digunakan akan membuat kualitas dan mutu alat ukur tersebut menjadi berkurang dan tidak sesuai dengan settingan aslinya dari pabrik pembuatnya. dampaknya yaitu pengukuran yang tidak akan benar bahkan fatal dalam pembangunan selanjutnya karena didasari dari pengukuran". oleh karena itu dengan adanya kalibrasi standard kualitas dan mutu alat ukur bisa kembali normal dan dapat digunakan dengan baik sesuai aturan dari pabrik pembuatnya.

More information Please Visit : http://www.indosurta.com



Pentingnya Kalibrasi Alat Ukur Dalam Kegiatan Pengukuran


Arif Rakhman M
Peneliti
INDOSURTA Batam.

Pendahulan

Dalam kehidupan sehari-hari, baik disadari maupun tidak, kita selalu berhubungan dengan alat ukur. Pada saat membeli beras, gula, atau minyak goreng, misalnya, kita akan dihadapkan pada masalah pengukuran berat maupun volume, yang berarti kita harus menggunakan alat ukur berupa timbangan maupun literan.  Berkaitan dengan penggunaan alat ukur ini, kita juga sering menemui kasus ketidak­samaan hasil dalam pengukuran. Bila kita membeli satu kantong berisi 10 kg beras di pasar, misalnya, dan kita melakukan penim­bangan ulang di rumah, bisa jadi beratnya kurang dari 10 kg. Namun, apabila kita menimbang dengan timbangan lainnya, bisa jadi beratnya lebih dari 10 kg. Lantas timbangan mana yang salah?

Alat ukur mempunyai peran yang sangat besar dalam hampir semua aktivitas ke­hidupan manusia. Dalam kegiatan pem­bangunan fasilitas umum, alat ukur selalu dipakai dari saat dimulainya pembangunan, pelaksanaan komisioning, sampai masa pengoperasian instalasi/fasilitas serta pelaksanaan pemeliharaannya.1 Pada setiap tahap kegiatan tersebut, semua alat ukur yang dipakai harus dipastikan fungsinya, apakah alat tersebut telah bekerja dengan baik dan benar sehingga dapat dipercaya penunjukan atau hasil bacaannya. Alat ukur yang dipakai dalam berbagai kegiatan dapat merupakan bagian dari peralatan secara individu atau bagian dari peralatan di dalam suatu sistem operasi. Dalam setiap kegiatan seringkali melibatkan berbagai macam jenis pengukuran yang memerlukan berbagai jenis alat ukur.

Beberapa kasus kegagalan suatu ke­giatan, seringkali terjadi karena kesalahan operasi yang kemungkinan besar berasal dari kesalahan sistem instrumentasi dalam kegiatan tersebut, misalnya karena tidak beroperasinya alat ukur atau alat ukur memberikan data hasil pengukuran yang salah.1 Demikian pula kerugian-kerugian lainnya dapat muncul karena tidak tepatnya hasil pengukuran oleh alat ukur, baik secara individu maupun yang terintegrasi dalam sistem kegiatan. Setiap kesalahan penun­jukan alat ukur secara tidak langsung dapat mengakibatkan ketidaktepatan langkah yang diambil untuk pelaksanaan rangkaian kegiatan tersebut. Hasil akhir dari kesalahan alat ukur itu dapat menyebabkan kegagalan operasi suatu kegiatan.
Alat ukur yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari mempunyai potensi untuk salah atau memberikan data hasil pengukuran yang salah.2 Dalam kegiatan ukur-mengukur atau lebih sering dikenal dengan istilah metrologi, ada kalanya akibat dari kesalahan hasil pengukuran itu hanya sebatas sedikit kerugian materi pada pembeli kalau tidak penjual, seperti umumnya terjadi pada kasus transaksi dalam jual beli barang. Namun, kesalahan hasil pengukuran dapat juga berakibat fatal jika berkaitan dengan ma­salah nyawa manusia. Kesalahan peng­ukuran oleh alat ukur yang digunakan dalam bidang kedokteran, misalnya, dapat meng­aki­batkan kesalahan pada kesimpulan diagnosis dan tindakan medis yang dilakukan oleh seorang dokter. Kesalahan timbangan presisi untuk meramu obat dalam farmasi juga bisa berakibat kesalahan pemberian dosis obat kepada pasien. Akibat yang sama fatalnya juga dapat terjadi karena kesalahan pengukuran oleh alat-alat navigasi pada pesawat terbang maupun kapal laut.

Pengertian Kalibrasi

Dalam kegiatan metrologi, memang berlaku azas praduga salah, karena tidak ada satu pengukuran pun yang tidak mengan­dung kesalahan. Jadi, sebelum ditelusuri melalui pengujian dan kalibrasi dengan alat yang memiliki ketelitian lebih tinggi, data hasil pengukuran tersebut harus dianggap salah.3 Kalibrasi merupakan istilah yang telah dibakukan dalam Bahasa Indonesia sebagai terjemahan dari istilah calibration dalam bahasa Inggris. Kegiatan kalibrasi adalah ke­giatan menentukan kebenaran penunjukan suatu alat ukur. Dengan kalibrasi ini diharapkan kerugian-kerugian yang terjadi akibat salah indikasi atau penyimpangan penunjukan dan pembacaan pada alat ukur dapat dihindari.
Mengingat kebenaran penunjukan alat ukur mempunyai arti yang sangat penting dalam hampir semua kegiatan manusia maka pelaksanaan kalibrasi harus mengikuti cara-cara yang telah dibakukan prosedurnya, baik mengikuti aturan-aturan standar ataupun rekomendasi dari pabrikan pembuat alat tersebut. Kalibrasi suatu alat ukur dilakukan dengan cara membandingkan penunjukan alat ukur yang dikalibrasi dengan alat ukur standar yang lebih tinggi atau sama kelas/ketelitiannya dan telah diketahui kesalahan ukurnya. Dengan melakukan kali­brasi pada setiap alat ukur, dapat ditentukan penyimpangan atau deviasi penunjukan alat ukur tersebut, sehingga ketelitian atau akurasi alat yang telah dikalibrasi terhadap alat ukur standar dapat dijamin. Kalibrasi dimaksudkan untuk mendapatkan tingkat mutu alat ukur yang paling maksimal.
Semua jenis alat ukur yang perlu dikali­brasi adalah alat ukur untuk besaran-besaran dasar dan turunan. Alat ukur besaran dasar meliputi alat ukur untuk mengukur panjang, massa, waktu, arus listrik, suhu, jumlah zat, dan intensitas cahaya. Sedang besaran tu­ru­nan terdiri atas alat untuk mengukur luas, isi, kecepatan, tekanan, gaya, frekuensi, energi, daya, hambatan listrik, dan sebagainya.1
Dalam metrologi dikenal adanya metro­logi legal dan metrologi teknis. Semua jenis alat ukur yang digunakan untuk transaksi menyangkut kuantitas suatu komoditas (seperti timbangan, literan dan sebagainya) termasuk metrologi legal. Sedang semua pengukuran di luar ketentuan legal masuk dalam metrologi teknis.
Pelaksanaan maupun penentuan periode kalibrasi bergantung pada jenis alat ukurnya, apakah alat ukur itu termasuk dalam katagori legal atau teknis. Untuk katagori legal, pelaksanaan dan periode kalibrasinya ditentukan oleh peraturan yang berlaku di suatu negara secara nasional. Untuk Indonesia diatur dalam Undang-Undang Metrologi Legal No. 2 Tahun 1981. Semua alat ukur untuk metro­logi legal sebelum dijual wajib ditera yang pelaksanaannya diawasi oleh Direktorat Metrologi Departemen Perindustrian dan Per­dagangan. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat berakibat tuntutan pidana.1
Kalibrasi untuk metrologi teknis di Indonesia baru bersifat anjuran. Pelaksanaan dan periode kalibrasinya bergantung pada keperluan dan/atau tingkat frekuensi penggunaannya. Dapat juga disesuaikan dengan rekomendasi dari masing-masing pabrikan pembuat alat tersebut. Makin tinggi ketelitian yang dipersyaratkan pada pem­bacaan atau penunjukan suatu alat ukur, terutama apabila alat itu berfungsi sebagai alat kontrol, maka periode pelaksanaan kalibrasinya akan lebih pendek atau lebih ketat. Bila dianggap perlu, misal karena penunjukannya diragukan, alat ini harus dikalibrasi ulang sebagai upaya melakukan tindakan korektif.3
Hasil pengukuran suatu besaran harus tepat, benar, dan dapat dipercaya. Bertitik tolak dari pentingnya kebenaran informasi yang diberikan oleh alat ukur teknis maka masalah kalibrasi alat ukur teknis juga menjadi sangat penting, meskipun istilah kalibrasi itu sendiri masih sangat asing bagi sebagian besar telinga masyarakat awam. Setiap alat ukur teknis harus dikalibrasi ter­le­bih dahulu sebelum digunakan. Kalibrasinya dilakukan secara berkala sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Alat ukur standar yang digunakan dalam kegiatan kalibrasi adalah alat ukur yang ketelitian dan juga tingkat presisinya minimal lebih tinggi atau lebih baik dari pada alat ukur yang dikalibrasi.4
Karena ada beberapa tingkatan labo­ra­torium kalibrasi, mulai dari laboratorium primer (standar tingkat internasional), laboratorium sekunder (standar tingkat nasional setiap negara), hingga laboratorium lokal (standar untuk kawasan tertentu), maka setiap alat ukur standar harus “mampu telusur” atau traceability terhadap standar yang lebih tinggi secara bertingkat dan tidak terputus. Untuk mempertahankan kualitas hasil pengukuran, di antara laboratorium-laboratorium standar primer selalu melaku­kan interkomparasi atau antar banding dalam pengukuran besaran-besaran tertentu secara periodik.
Standar alat ukur tingkat nasional juga harus selalu dikalibrasi untuk menjaga ketepatannya. Dalam hal ini, alat ukur standar nasional dikalibrasi terhadap alat ukur standar yang dimiliki negara lain, sehingga alat ukur yang dikalibrasi secara internasional ini akan bersifat universal. Kalibrasi tingkat internasional ini biasanya dilakukan dengan pusat-pusat metrologi dan kalibrasi ternama di dunia, seperti Physika­lisch Technische Bundensantstalt (PTB) di Jerman,National Physical Laboratory (NPL) di Inggris, National Bareau of Standards (NBS) di Amerika Serikat, Electro Technical Laboratory (ETL) di Jepang, Bareau International des Poids et Mesures (BIPM) di Perancis, dan sebagainya.5
Alat ukur yang digunakan dalam aktivitas tertentu dapat dikalibrasi dengan alat ukur yang dimiliki oleh laboratorium lokal suatu daerah dimana alat itu digunakan. Cara kalibrasi yang paling mudah dan umum digunakan terutama untuk kegiatan di lapangan adalah metode komparasi, yaitu dengan membandingkan penunjukan alat ukur yang dikalibrasi dengan alat ukur standar yang dimiliki laboratorium lokal. Namun, alat ukur standar pada laboratorium lokal tersebut juga harus dikalibrasi dengan alat ukur standar sejenis yang dimiliki oleh setiap negara. Sedang alat ukur standar yang ada di laboratorium sekunder atau labora­to­rium tingkat nasional itu juga harus dikalibrasi terhadap alat ukur primer tingkat interna­sional. Dengan demikian, alat ukur yang dipakai di suatu kawasan dapat ditelusuri tingkat kepercayaan penunjukannya hingga ke tingkat internasional, meskipun alat tersebut tidak dikalibrasi dengan alat ukur yang dimiliki laboratorium primer.5
Kalibrasi alat ukur teknis mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan kualitas suatu produk, baik barang maupun jasa,  sehingga mendukung upaya tercapainya standardisasi produk. Dengan mengkalibrasi alat ukur teknis yang dimiliki, kegiatan indus­tri, jasa, maupun pelayanan dapat meng­hasilkan barang, jasa, maupun pelayanan dengan mutu standar yang disyaratkan sehingga dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan pasar, baik dalam maupun luar negeri.1 Dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat, kualitas pelayanan yang bagus akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap suatu lembaga.
Kalibrasi alat uji dan alat ukur teknis juga berkaitan dengan masalah keselamatan kerja dan lingkungan. Alat ukur radiasi, misalnya, biasanya merupakan satu-satunya alat yang diandalkan untuk mengukur laju dosis radiasi di tempat kerja yang memanfaatkan zat radioaktif atau sumber radiasi lainnya.6 Dalam pelayanan kesehatan, penggunaan radiasi ini bisa ditemui dalam kegiatan radiodiagnostik maupun radioterapi. Ke­salahan fatal dapat terjadi apabila alat tersebut salah dalam memberikan informasi hasil pengukuran intensitas radiasi di tempat kerja. Dampak negatif terhadap lingkungan juga dapat terjadi karena kesalahan dalam mengukur kadar bahan-bahan berbahaya di dalam limbah industri.
Setiap alat ukur yang telah dikalibrasi akan mendapatkan sertifikat kalibrasi yang berlaku untuk jangka waktu tertentu, dan harus dikalibrasi ulang jika  jangka waktu berlakunya sertifikat tersebut telah habis. Pemberian sertifikat ini akan mempermudah penelusuran kebenaran alat ukur. Hanya dengan alat ukur yang terkalibrasi bisa diperoleh hasil pengukuran yang tepat dan teliti. Pada alat ini standardisasi produk, jasa dan pelayanan serta keselamatan kerja dan lingkungan bersandar. Masih berkaitan dengan masalah kalibrasi, perlu juga diper­ha­ti­­kan persyaratan lain dalam hal peme­liharaan alat, seperti penyimpanannya harus ditempat atau ruang yang terkondisi, baik suhu maupun kelembabannya.7

Jaringan Nasional Kalibrasi

Pada prinsipnya, semua jenis alat ukur teknis harus dikalibrasi, baik alat ukur untuk besaran standar (seperti berat, panjang, waktu, arus listrik, suhu, jumlah zat dan intensitas cahaya), maupun alat ukur besaran turunan (seperti luas, isi, kecepatan, tekanan, gaya, frekuensi, energi, daya, tahanan listrik, dan lain-lain).8 Secara umum, suatu labora­torium fasilitas kalibrasi mempu­nyai tugas-tugas sebagai berikut:
  • · Memberikan pelayanan untuk mengkalibrasi alat ukur yang memerlukan kete­patan dan ketelitian tinggi.
  • Memelihara dan menyempurnakan metode yang diperlukan dalam pelayanan kalibrasi dan pengukuran.
  • Membina dan memberikan bimbingan tek­nis kepada fasilitas kalibrasi tingkat lokal.
  • Memelihara dan menyempurnakan alat ukur standar nasional.
  • Memberikan pengesahan terhadap prosedur kalibrasi di fasilitas kalibrasi tingkat lokal.
  • Mengkalibrasi alat ukur standar nasional terhadap alat ukur primer atau memban­ding­kan dengan alat ukur standar yang setingkat.
Pada awal 1978, telah dibentuk suatu Komite Kalibrasi Indonesia (KKI) dengan program kerja utama adalah membentuk Jaringan Nasional Kalibrasi (JNK). Sertifikat kalibrasi sebagai laporan hasil pelaksanaan kalibrasi hanya dikeluarkan oleh lembaga/ badan/institusi yang tergabung dalam JNK yang secara periodik dibina, diarahkan, dan dinilai oleh KKI. Maksud pembentukan JNK ini adalah menghimpun pusat-pusat kalibrasi dengan kemampuan dan dapat memberikan jasa kalibrasinya kepada masyarakat, perorangan, maupun industri. Kalibrasi alat ukur tingkat nasional pada mulanya diawasi oleh Komisi Kalibrasi yang berada dalam Dewan Standardisasi Nasioanl (DSN). Dewan ini juga berfungsi sebagai pembina hu­bung­an internasional dalam masalah kalibrasi.
Kini fungsi DSN diambil alih oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 13, Tahun 1997. Tugas pokok BSN adalah mem­bantu presiden dalam menyelenggarakan pengembangan dan pembinaan di bidang standardisasi, yang mencakup metrologi teknik, standar, pengujian, dan mutu, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk melaksanakan sebagian tugas dan fungsi, BSN dibantu oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). Sebagai Badan Akreditasi Nasional, KAN mempunyai tugas untuk memberikan akreditasi kepada lembaga sertifikasi (antara lain mencakup sistem mutu, produk, personel pelatihan, sistem manajemen lingkungan, sistem pengelolaan hutan lestari), laboratorium penguji, laboratorium kalibrasi, dan lembaga inspeksi teknis.9
Dengan adanya KAN yang berada di bawah Badan Akreditasi Nasional (BAN) maka saat ini bagi setiap lembaga/badan/ institusi/unit/perusahaan/industri yang telah memiliki dan mampu mengelola laborato­rium kalibrasi serta memenuhi semua persya­ratan akreditasi, dapat mengajukan diri ke­pada KAN untuk bertindak sebagai labora­torium penguji/kalibrasi. Lembaga yang telah diakreditasi oleh KAN diberi kewenangan untuk mengeluarkan/mener­bitkan sertifikat sesuai dengan ruang lingkup akreditasinya. Untuk laboratorium kalibrasi dapat menerbit­kan sertifikat kalibrasi. Dalam tabel 1 disaji­kan daftar beberapa contoh laborato­rium kali­brasi yang telah diakreditasi oleh KAN-BSN.
Anggota JNK terdiri dari beberapa instansi yang dinilai memenuhi persyaratan seperti memiliki fasilitas kalibrasi, memiliki tenaga pelaksana kalibrasi, dan bersedia memberi­kan jasa kalibrasinya kepada masyarakat yang memerlukannya. Sampai saat ini, telah terdaftar secara resmi banyak instansi yang menjadi anggota JNK, seperti Balai Besar Pengembangan Industri Logam dan Mesin (BBPLM/MIDC) di Bandung, Direktorat Metrologi di Bandung, Badan Tenaga Nuklir Nasional di Jakarta, Pusat Penyelidikan Masa­lah Kelistrikan (PPMK/LMK-PLN) di Jakarta, P.T. Telkom di Bandung, P.T. Pusat Industri Angkatan Darat (PINDAD) di Bandung, Departemen Mesin dan Elektro-ITB di Bandung, Puslitbang Kalibrasi Instrumen­tasi & Metrologi (KIM-LIPI) di Serpong-Jawa Barat, Balai Besar Barang dan Bahan Teknik di Bandung, Laboratorium Uji Konstruksi (LUK-BPP­T) di Serpong, dan lain-lain.8
1204-tabel1-AKNII
Dalam rangka menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas yang menekankan pada kualitas produk (baik barang maupun jasa) serta pelestarian lingkungan hidup, masalah kalibrasi alat ukur perlu segera dimasyarakatkan. Menurut data, dari sekian banyak alat ukur teknis yang beredar dan dipergunakan di Indonesia, baru sekitar 10% alat ukur yang dikalibrasi di Indonesia. Satu persen dikalibrasi di luar negeri dan selebih­nya tidak dikalibrasi sama sekali. Data ini menunjukkan bahwa untuk metrologi teknis, sebagian besar pengukuran di Indonesia harus dianggap salah. Titik pangkal dari semua permasalahan ini tidak lain karena belum populernya kegiatan kalibrasi alat ukur dan belum pahamnya sebagian besar masyarakat Indonesia akan pentingnya kalibrasi tersebut.
Secara edukatif, pemasyarakatan kalibrasi juga mempunyai dampak positif terhadap produsen/industri untuk meningkatkan disiplin. Kesadaran terhadap pentingnya meningkatkan mutu produk berupa barang, jasa, dan layanan umumnya masih kurang. Jadi, upaya pemasyarakatan kalibrasi harus ditempuh kalau bangsa Indonesia benar-benar ingin meningkatkan kualitas produk dan merebut pasar internasional. Bagi industri, selain untuk menjamin kualitas pro­duk, pengukuran yang tepat juga bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi dan produk­tivitas. Ketelitian dalam pengukuran dapat mengurangi penggunaan energi dan bahan baku yang tidak diperlukan. Dalam kegiatan medis, pengukuran yang tepat bisa dipakai untuk meningkatkan kualitas jasa pelayanan medis, meningkatkan kepercayaan pasien, dan keselamatan.
Kesalahan penunjukan alat ukur pada suatu instalasi maupun fasilitas lainnya, terutama disebabkan oleh kurangnya perhatian dalam melaksanakan kalibrasi alat ukur. Untuk menghindari kerugian yang dapat diakibatkan oleh kesalahan hasil pengukuran maka pelaksanaan kalibrasi harus merupakan kegiatan pengujian yang dilakukan secara periodik. Dengan kalibrasi ini maka mutu, akurasi, maupun keandalan alat ukur akan selalu terjaga. Demikian pula kualitas produk yang dihasilkannya.

http://www.jurnalmedika.com/edisi-tahun-2012/edisi-no-04-vol-xxxvii-2012/435-artikel-konsep/890-pentingnya-kalibrasi-alat-ukur-dalam-kegiatan-medis

No comments :

Post a Comment

Cara Seo Blogger